Select Page

Serangan Stroke memang terjadi mendadak. Namun proses yang mendasarinya sering kali merupakan akumulasi dari faktor risiko stroke yang terjadi bertahun-tahun. Semakin banyak faktor risiko stroke semakin besar kemungkinan seseorang terserang stroke. Apa saja sih faktor risiko stroke?

Kita mengenal faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan dapat dimodifikasi. Pencegahan stroke ditekankan pada faktor-faktor yang dapat dimodifikasi.

Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi

  • Usia
    Stroke identik dengan penyakit orang tua. Namun beberapa tahun terakhir kejadian stroke pada anak semakin meningkat. Dikatakan, risiko stroke meningkat dua kali pada usia di atas 55 tahun.
  • Jenis kelamin
    Stroke lebih banyak terjadi pada laki-laki dibanding wanita. Namun pada kelompok usia 35-44 tahun dan di atas 85 tahun stroke justru banyak terjadi pada wanita.
  • Berat badan lahir rendah (BBLR)
    Risiko stroke meningkat dua kali pada orang dengan berat badan yang rendah (< 2500 g) ketika lahir.
  • Ras/etnis
    Orang kulit hitam dan Hispanic/Latino Americans memiliki risiko stroke yang lebih tinggi dibanding orang kulit putih. Pada usia muda sampai pertengahan, risiko stroke perdarahan pada orang kulit hitam lebih tinggi dibanding orang kulit putih.
  • Faktor genetik
    Adanya riwayat stroke dalam keluarga meningkatkan risiko stroke sebesar 30%. Tipe stroke yang dihubungkan dengan faktor genetik umumnya adalah stroke yang bersumber dari jantung.

Faktor risiko yang dapat dimodifikasi

  • Hipertensi/Tekanan darah tinggi
    Hipertensi adalah faktor risiko utama stroke, baik itu stroke sumbatan maupun perdarahan. Hipertensi dapat meningkatkan risiko stroke sampai 8 kali. Pemeriksaan tekanan darah berkala sangat disarankan untuk mendeteksi risiko stroke lebih dini sehingga dapat dicegah. Pada populasi umum, target tekanan darah yang disarankan adalah <140/90 mm Hg, sedangkan pada orang dengan kencing manis, target tekanan darah adalah <130/80 mm Hg.
  • Merokok
    Banyak penelitian yang konsisten menyebutkan merokok meningkatkan risiko stroke. Merokok meningkatkan risiko stroke sumbatan sampai 2 kali dan meningkatan risiko stroke perdarahan sub araknoid (PSA) 2-4 kali. Yang berisiko di sini bukan hanya perokok aktif, perokok pasif pun memiliki risiko stroke yang meningkat dua kali. Berhenti merokok. Tidak ada pilihan lain.
  • Diabetes/Kencing manis
    Diabetes meningkatkan stroke sumbatan 2-6 kali! Mengendalikan kadar gula dikatakan mampu menurunkan risiko stroke yang cukup bermakna.
  • Dislipidemia
    Kadar total kolesterol yang tinggi (>7 mmol/L [>271 mg/dL]) meningkatkan risiko stroke sumbatan sampai 1,5 kali. Bukan berarti kolesterol ini tidak dibutuhkan, karena pada total kolesterol yang rendah (<4,14 mmol/L [<160 mg/dL]) justru akan meningkatan risiko stroke perdarahaan sampai 3 kali pada laki-laki. Sedangkan kadar kolesterol HDL berbanding terbalik dengan risiko stroke, sehingga kolesterol HDL sering dikenal dengan istilah “kolesterol baik”. Kadar kolesterol HDL yang rendah (<35 mg/dL) meningkatan risiko stroke sumbatan sampai 2 kali. Setiap peningkatan 10 mg/dL kadar kolesterol HDL akan menurunkan risiko stroke 11-15%. Kadar Trigliserida yang tinggi dikatakan meningkatan risiko stroke sumbatan sebesar 50%.
  • Atrial fibrillation dan penyakit jantung lainnya
    Atrial fibrillation (AF) merupakan salah satu gangguan irama jantung yang paling sering dihubungkan dengan stroke. Penelitian menunjukkan AF meningkatkan risiko stroke sumbatan karena emboli sebesar 4 sampai 5 kali. Selain gangguan irama jantung, gangguan katup dan adanya tumor pada jantung juga meningkatkan risiko terjadinya stroke.
  • Terapi Hormon Postmenopause
    Pada wanita postmenopause yang menggunakan terapi hormon estrogen dapat meningkatkan risiko stroke sumbatan 1,5 kali. Penelitian ini terbatas dilakukan pada wanita dengan usia rata-rata 63 tahun dan telah mengalami postmenopause lebih dari 5 tahun.
  • Kontrasepsi Oral
    Hubungan antara penggunaan kontrasepsi oral dengan terjadinya stroke memang masih kontroversi. Penelitian menunjukkan risiko stroke sumbatan pada penggunaan kontrasepsi oral dapat meningkat 2 kali. Risiko stroke sumbatan pada wanita perokok yang menggunakan kontrasepsi oral meningkat 7 kali.
  • Diet dan Nutrisi
    Masalah nutrisi ini dihubungkan dengan peningkatan tekanan darah yang merupakan faktor risiko utama terjadinya stroke. Asupan garam yang berlebihan, kalium yang rendah, berat badan berlebih, konsumsi alkohol yang berlebihan dikatakan berhubungan dengan peningkatan tekanan darah.
  • Aktivitas fisik
    Aktivitas fisik yang cukup mengurangi risiko stroke sebesar 25-30% dibanding aktivitas fisik yang kurang. Disarankan untuk orang dewasa, setidaknya 150 menit (2 jam 30 menit) per minggu melakukan aktivitas fisik intensitas sedang atau 75 menit (1 jam 15 menit) per minggu melakukan aktivitas fisik erobik dengan intensitas kuat, atau kombinasi keduanya.
  • Obesitas/kegemukan
    Secara tradisional, status berat badan dapat diukur dengan BMI (Body Mass Index) yang membagi berat badan dalam kilogram dengan tinggi badan dalam meter kuadrat. BMI 25-29,9 kg/m² dikatakan overweight (kelebihan berat badan) dan BMI >30 kg/m² dikatakan obesitas. Pada BMI rentang 25-50 kg/m², setiap kenaikan 5 kg/m² berhubungan dengan peningkatan risiko kematian pada stroke sebesar 40%.
  • Migren
    Pada wanita muda, migren dapat meningkatkan risiko terjadinya stroke sebesar 1,5 sampai 2 kali. Dikatakan risiko stroke pada migren dengan aura lebih besar dibanding dengan migren tanpa aura.
  • Konsumsi Alkohol
    Konsumsi alkohol dalam jumlah sedikit sampai sedang dapat melindungi jantung dan pembuluh darah. Konsumsi alkohol yang berat justru dapat menyebabkan hipertensi dan meningkatkan risiko stroke. Penelitian menunjukkan konsumsi 60 g alkohol per hari meningkatkan risiko stroke sebesar 64% sedangkan konsumsi alkohol <24 g per hari menurunkan risiko stroke sebesar 20-30%. Bagi mereka yang biasa mengkonsumsi alkohol, minum <2 drinks per hari untuk laki-laki dan <1 drink untuk wanita yang tidak hamil masih diperkenankan. Tapi bagi yang tidak mengkonsumsi alkohol tidak disarankan untuk mulai mengkonsumsi alkohol.

Ada sebuah sistem skoring sederhana yang digunakan untuk menilai risko stroke bernama “Stroke Risk Scorecard“. Silakan unduh pada link berikut: 

Stroke itu mengintai di luar sana. Sekarang tergantung pada diri Anda sendiri, apakah mau membukakan pintu untuk Stroke atau tidak. Ingat, mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.

Be Healthy, Be Happy!