Select Page

Nyeri pinggang merupakan masalah kesehatan yang cukup sering dijumpai di layanan kesehatan primer. Nyeri pinggang biasanya digambarkan sebagai nyeri, ketegangan otot, atau kekakuan yang terlokalisir di batas bawah tulang iga dan di atas lipatan lipatan paha, dengan atau tanpa rasa nyeri yang menjalar ke kaki. Laporan di Amerika menunjukkan sekitar 84% orang dewasa pernah mengalami nyeri pinggang.

Klasifikasi Nyeri Pinggang

Nyeri pinggang dapat diklasifikasikan berdasarkan penyebab dan durasi (waktu). Berdasarkan penyebab, nyeri pinggang dapat dikelompokkan menjadi nyeri pinggang spesifik dimana gejala yang muncul disebabkan oleh mekanisme patofisiologi yang spesifik, seperti hernia nuclei pulposi (HNP), infeksi, osteoporosis, rheumatoid arthritis, fraktur (patah tulang), atau tumor; sedangkan gejala yang muncul pada nyeri pinggang non spesifik tanpa penyebab spesifik yang jelas. Keluhannya bisa berupa kekakuan otot dan bersifat fokal di sekitar punggung sampai nyeri di atas lutut. Sekitar 90% nyeri pinggang masuk dalam kategori nyeri pinggang non spesifik.

Berdasarkan durasi (waktu), nyeri pinggang dapat dibagi menjadi nyeri pinggang akut bila menetap kurang dari 6 minggu, subakut bila menetap antara 6 minggu sampai 3 bulan, dan kronis bila lebih dari 3 bulan. Pengelompokan nyeri pinggang ini penting karena terkait dengan penegakan diagnosis dan pengobatannya.

Apa saja penyebab nyeri pinggang?

Proses patologis yang mempengaruhi struktur yang membentuk punggung bawah dapat menyebabkan nyeri. Struktur tersebut diantaranya adalah: tulang belakang yang tersusun sedemikian rupa dari leher sampai ke tulang ekor, diskus yang terletak di antara tulang belakang, sistem  saraf yang berjalan dekat dengan tulang belakang, serta otot, tendon, dan ligament yang termasuk ke dalam jaringan lunak. Proses patologis bisa berupa trauma (terjatuh), infeksi, tumor, proses penuaan, penjalaran nyeri dari organ-organ di sekitarnya, dan lain-lain.

Apa yang harus diwaspadai dari nyeri pinggang?

Dalam praktek klinis, adanya bendera merah (red flag) merupakan indikasi adanya proses patologi yang mendasari, termasuk masalah akar saraf. Berikut adalah bendera merah penanda waspada pada pasien dengan nyeri pinggang:

  • Nyeri pinggang muncul pada usia kurang dari 20 tahun atau lebih dari 55 tahun
  • Ada riwayat jatuh atau trauma pada tulang belakang
  • Nyeri dada dan gangguan bentuk tulang belakang
  • Terdapat kelemahan dan kesemutan pada kaki
  • Terdapat gangguan kencing dan buang air besar
  • Penurunan berat badan yang tidak bisa dijelaskan
  • Panas dan merasa kurang sehat
  • Penggunaan steroid yang rutin dalam waktu yang lama
  • Memiliki penyakit kencing manis atau penyakit lain yang menurunkan daya tahan tubuh
  • Memiliki riwayat tumor ganas (kanker) atau osteoporosis

Bila terdapat gejala di atas, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.

Bagaimana gejala penjepitan atau masalah pada akar saraf?

Adapun beberapa tanda atau keluhan yang sering dijumpai pada penjepitan atau masalah pada akar saraf adalah nyeri yang menjalar dari pinggang ke kaki sampai ujung jari kaki, nyeri pada kaki biasanya lebih berat dari nyeri pinggang, terdapat mati rasa atau kesemutan yang sesuai dengan daerah yang disuplai oleh saraf yang terjepit, nyeri diperberat dengan batuk, bersin atau mengedan, pada proses yang berlangsung lama otot-otot kaki dapat mengecil dan bahkan dapat menimbulkan kelumpuhan. Dari pemeriksaan juga bisa didapatkan refleks pada kaki yang menurun dan nyeri menjalar dapat dimunculkan dengan teknik pemeriksaan neurologis tertentu.

Pemeriksaan penunjang apa yang perlu dilakukan?

Untuk memastikan adanya penyebab yang spesifik, ada beberapa pemeriksaan penunjang yang perlu dilakukan seperti pemeriksaan laboratorium, imaging seperti foto polos (X-ray) tulang belakang, CT-sken, MRI tulang belakang, lumbar punksi sesuai indikasi, serta neurofisiologi berupa elektromiografi (EMG) untuk melihat kondisi saraf.

X-ray bagus untuk melihat kondisi tulang dan struktur internal yang besar, namun kurang baik untuk melihat jaringan lunak seperti otot dan diskus atau bantalan yang terdapat di antara tulang. X-ray dapat menunjukkan bila ada tulang yang patah, bergeser, atau bentuk yang tidak normal.

CT-sken dapat memberikan gambaran yang lebih detil dari X-ray, namun memiliki radiasi yang lebih besar. CT-sken dapat menunjukkan kelainan yang dapat ditunjukkan oleh X-ray, ditambah beberapa masalah pada jaringan lunak.

MRI menggunakan medan magnet yang sangat kuat, memberi gambaran jaringan lunak yang lebih detil daripada CT-sken. Namun kurang baik dilakukan pada pasien dengan implant logam pada tubuh mereka. MRI lebih akurat untuk kasus-kasus infeksi dan keganasan.

Apakah setiap nyeri pinggang diperlukan pemeriksaan imaging?

Tidak selalu. Kebanyakan kasus nyeri pinggang, meski terasa berat, tidak disebabkan oleh proses yang membahayakan. Nyeri pinggang dapat menghilang dengan pengobatan yang sederhana. Pemeriksaan imaging pada tulang belakang bukanlah pemeriksaan yang rutin dilakukan. Selain memiliki efek radiasi yang kuat (terutama CT-sken), temuan abnormal pada imaging dapat dijumpai pada orang tanpa nyeri pinggang sekalipun.

Pemeriksaan imaging diperlukan terutama pada kasus nyeri pinggang dengan tanda bendera merah seperti yang sudah disebutkan di atas. Begitu juga pada keluhan nyeri pinggang yang sudah berlangsung 4 sampai 6 minggu, atau lebih. Tulang belakang terbagi menjadi ruas-ruas leher, dada, lumbal, dan tulang ekor. Pemeriksaan neurologis yang baik akan dapat menuntun pemilihan imaging yang sesuai dengan tingkat ketinggian ruas yang tepat.

Bagaimana menangani nyeri pinggang?

Beberapa pasien memerlukan tindakan operasi untuk menangani nyeri pinggang. Namun sebagian besar dapat membaik tanpa operasi, yaitu dengan obat-obatan penghilang nyeri dan kekakuan otot, injeksi, latihan untuk peregangan, spinal manipulation, akupuntur, behaviour therapy , lumbar supports, massage, transcutaneous electrical nerve stimulation, dll.

Pada nyeri pinggang akut disarankan untuk tetap aktif dan menghindari hanya berbaring di tempat tidur, kecuali intruksi dari dokter. Pada nyeri pinggang kronis perlu dicari juga tanda dari bendera kuning (yellow flag) seperti faktor yang berhubungan dengan pekerjaan, stres psikososial, mood yang depresif, beratnya nyeri dan pengaruh ke fungsional, episode nyeri pinggang sebelumnya, dan harapan pasien. Penanganan multidisiplin diperlukan untuk mendapatkan hasil yang lebih optimal.

Bagaimana mencegah agar nyeri pinggang tidak kambuh lagi?

Untuk mencegah nyeri pinggang tidak kambuh lagi, mengubah kebiasaan buruk dan membiasakan gaya hidup sehat adalah kuncinya. Disarankan untuk tetap aktif dan rutin untuk melakukan latihan, terutama yang dapat memperkuat otot perut dan punggung. Beberapa penelitian juga melaporkan pada orang yang merokok, risiko nyeri pinggang akan meningkat, begitu juga pada pasien dengan obsesitas (kegemukan). Kebiasaan mengangkat barang yang salah juga dapat memicu nyeri pinggang. Daerah lumbal adalah titik tumpu yang menyangga beban tubuh kita. Postur yang salah ketika menganggat barang dapat memberikan beban berlipat yang dirasakan oleh pinggang. Terlalu lama duduk dengan pekerjaan yang kurang aktif bergerak sebaiknya diatasi dengan melakukan peregangan di sela-sela pekerjaan. Kasur yang terlalu lembek untuk tidur juga sebaiknya dihindari, bayangkan saja bila tulang belakang dalam posisi melengkung selama 8 jam kita tidur, tentu bisa membentuk postur yang tidak baik. Sering kali, nyeri pinggang yang muncul adalah akumulasi dari kebiasaan buruk yang kita pupuk sehari-hari. Ayo membiasakan hidup sehat dan ucapkan selamat tinggal pada nyeri pinggang.

Artikel di atas dimuat di Tabloid TOKOH No. 796 Tahun XVI, 12-18 Mei 2014, hal. 10

nyeri_pinggang_tabloid-tokoh-2014

Klik gambar untuk memperbesar tampilan