Select Page

Sejak setahun lalu, pro-kontra tentang prosedur cuci otak atau brainwash (ada juga yang menyebutnya brainspa) yang dilakukan oleh dokter T begitu santer terdengar. Kehebohan bermula ketika sebuah majalah berita dan politik memuat kisah seorang penyanyi Indonesia era tahun 70-an, BP, telah sembuh dari stroke yang dideritanya setelah menjalani prosedur brainwash. Pesan ini pun kemudian menyebar dengan cepat melalui BlackBerry Messenger (BBM) yang dimulai dengan “Ada info dari teman, jika ada keluarga yang kena stroke… dst…”. Entah siapa yang memulai. Kehebohan semakin menjadi setelah salah seorang menteri, DI, menuliskan testimoni berjudul “Membersihkan Gorong-gorong Buntu di Otak“. Bahasanya yang santai dan renyah mampu membuat pembaca ingin mencoba prosedur Brainwash ini.

Benarkah Brainwash dapat “menyembuhkan” Stroke?

Sebelum menjawab hal tersebut, ada beberapa hal yang perlu disampaikan agar masyarakat menjadi paham bagaimana sebuah prosedur kekedokteran dapat diterapkan ke masyarakat.

Saat ini, penanganan stroke di Indonesia berpedoman pada Guideline STROKE 2011 (sebelumnya tahun 2007 -red) yang dikeluarkan oleh Kelompok Studi Stroke, Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (PERDOSSI). Panduan ini disusun berdasarkan penelitian-penelitian besar yang telah dipublikasi dalam beberapa tahun terakhir baik di dalam maupun luar negeri. Beberapa negara maju melalui organisasi seminat seperti American Heart Association (AHA) / American Stroke Association (ASA), European Stroke Organisation (ESO), dan lain-lain telah memperbaharui guideline tentang stroke dalam 5 tahun terakhir.

Belum diterimanya metode itu oleh dunia kedokteran di seluruh dunia membuat gerak Terawan terbatas. Misalnya tidak bisa secara terbuka mengajarkan ilmunya itu ke dokter-dokter lain agar antrean tidak terlalu panjang. Sampai hari ini, baru dialah satu-satunya di dunia yang bisa melakukan cara itu.

– DI, “Membersihkan Gorong-gorong Buntu di Otak”

Kami meyadari bahwa ilmu kedokteran sangat dinamis. Terjadi perkembangan yang sangat pesat dari waktu ke waktu. Berbagai penelitian dilakukan untuk mencari metode, obat baru, atau apa pun itu untuk kesejahteraan manusia. Hal ini tidaklah dilakukan dengan sembarangan. Ada kaidah-kaidah tertentu yang harus diikuti, seperti misalnya sebuah metode atau obat baru harus melewati fase 3 uji klinis terlebih dahulu sebelum dapat “dipasarkan” ke masyarakat umum (fase 4).

Penelitian yang telah dilakukan haruslah dipublikasikan dalam jurnal-jurnal ilmiah. Prosedur dan metode harus dibeberkan secara gamblang agar dapat dikritisi. Sayangnya, hal ini tidak dilakukan oleh dr T dengan metode brainwash-nya. Jika beliau melalui tahapan ini dan memang terbukti metode brainwash bermanfaat secara klinis, tentu dunia kedokteran Indonesia (bahkan dunia) akan angkat topi.

Brainwash bukan Trombolisis rTPA

Sampai saat ini, prosedur yang diakui dunia mampu “menghancurkan” bekuan darah penyumbat aliran otak adalah trombolisis, salah satunya dengan intravena recombinant tissue plasminogen activator (rTPA). Metode ini memiliki syarat yang sangat ketat agar dapat dikerjakan pada pasien, seperti misalnya tidak adanya bukti stroke perdarahan dan serangan stroke kurang dari 3 sampai 4,5 jam sebelum intravana rTPA ini dikerjakan. Bila dikerjakan di luar syarat yang telah ditentukan, kerugian atau risiko terjadinya efek samping akan semakin besar. Dari testimoni yang ada, jelas brainwash bukanlah trombolisis rTPA. Brainwash dikatakan dapat dikerjakan pada stroke yang sudah lama terjadi, baik pada stroke perdarahan maupun sumbatan.

Guidelines for the Early Management of Patients With Acute Ischemic Stroke, AHA/ASA, 2013. [link]

Guidelines for the Early Management of Patients With Acute Ischemic Stroke, AHA/ASA, 2013. p.898 [link]

Dilihat dari penuturan pak DI, bisa saja yang disebut Brainwash oleh masyarakat umum adalah Digital Subtraction Angiography atau dikenal dengan istilah DSA. Namun peranan DSA di sini adalah sebagai alat diagnosis untuk mendeteksi adanya sumbatan pada pembuluh darah, bukan sebagai terapi. Apalagi dikatakan dengan melakukan DSA maka seseorang akan terhindar dari stroke, ini jelas menyesatkan. Lagi pula, DSA ini sudah banyak yang mengerjakan, jadi pernyataan pak DI “satu-satunya  di dunia yang bisa melakukan” otomatis gugur.

DSA-conventional_angiography

Guidelines for the Early Management of Patients With Acute Ischemic Stroke, AHA/ASA, 2013. p.885 [link]

Akankah menjadi polemik tak berujung?

Akankah Brainwash ini akan menjadi polemik yang tak berujung? Kemenkes telah berjanji untuk menuntaskan polemik ini. Harapan saya, isu-isu yang menyesatkan yang selama ini beredar dapat diluruskan. Masyarakat diberikan informasi yang sejelas-jelasnya dan tidak dibuai oleh testimoni ala Klinik T*ng F*ng.

Bila hal ini dibiarkan berlarut-larut, bukan tidak mungkin akan semakin banyak muncul metode-metode baru tanpa melewati uji klinis yang benar dan bisa saja merugikan masyarakat dari segi kesehatan dan ekonomi. Ada istilah “teliti sebelum membeli”, kali ini istilah yang cocok adalah “teliti sebelum mencuci (otak)”. Begitu juga seharusnya masyarakat tidak menelan mentah-mentah informasi kesehatan yang ada di TV, majalah, internet, juga testimoni yang diberikan oleh publik figur. Jangan mudah terbuai oleh janji-janji kesembuhan dan bila ragu, mintalah second opinion kepada ahlinya.

Be Healthy, Be Happy!